Kuliah (lagi)

Rianto Astono
5 min readNov 8, 2022

Dari kuliah lagi, saya akan membagikan cerita tentang bagaimana saya menemukan dan mengeksekusi ide bisnis.

Entah habis kesambet apa, beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk kuliah lagi.

Bukan master, apalagi doktoral. Melainkan S1 strata satu. Level pendidikan yang harusnya sudah saya lewati belasan tahun lalu. Maklum meski dulu pernah kuliah sampai semester 8, saya belum sempat lulus.

Selain diputuskan dengan cukup spontan, uhuy, tentu saja ada berbagai alasan bagi saya untuk akhirnya kuliah lagi.

Alasan yang paling simpel, karena saya punya banyak waktu senggang. Saat ini semua urusan bisnis saya sudah ada yang membantu dan dapat dijalankan secara otomatis.

Alasan yang lebih khusus, karena saya kepingin pensiun dengan mengajar, kepingin bikin banyak penelitian dan jurnal ilmiah dan kalau bisa kepingin bikin kampus. Cita-cita terpendam saya sejak dulu.

Pada akhirnya saya memilih kampus yang memiliki program pembelajaran jarak jauh. Salah satu yang terbaik di Indonesia. Dan setelah melewati proses assessment, saya pun mendapatkan masa kuliah hanya 2,5 tahun untuk jurusan bisnis manajemen.

Maklumlah, begini-begini saya kan sudah punya pengalaman bisnis belasan tahun lamanya.

Singkat cerita. Kuliah pun dimulai. Episode deja vu juga dimulai. Saya seperti nostalgia.

Saya teringat kembali dengan omelan-omelan dan keluhan-keluhan saya dulu tentang kuliah dan mengapa saya memutuskan tak menyelesaikannya.

Ternyata kuliah masih begitu-begitu saja.

Meski itu kampus dengan reputasi hebat dan sangat terkenal, tidak ada bedanya. Sejak masa assessment, orientasi hingga sekitar 3 bulan berkuliah, satu kesan yang selalu saya dapatkan adalah bahwa kampus hanya fokus mencetak mentalitas para pekerja, bukan pengusaha.

Dosen masih sibuk bicara sendiri saat sesi kuliah online. Diskusi nyaris tidak terjadi. Sistem pembelajaran masih sangat kaku dan terpaku hanya pada textbook. Tugas kelompok dikerjakan tanpa diskusi kelompok. Di salah satu mata kuliah bahkan, semua tugas kelompok saya yang mengerjakan 100% karena anggota kelompok lain sama sekali tidak merespon dan sangat sibuk, padahal masih pada bocil.

Maka wajar jika saya kelewat sering mendapatkan para sarjana yang melamar pekerjaan di kantor saya yang betul-betul tidak ada isinya. Miskin argumentasi. Lemah dalam berpikir. Nir kreativitas. Tanpa skill, baik softskill maupun hardskill. Tapi maunya digaji besar. Well, itulah yang kira-kira akan saya ubah jika suatu saat cita-cita saya tercapai, yakni mengajar dan membuat kampus sendiri untuk mencetak sdm-sdm handal. Amin.

Selain itu, dalam perjalanan berkuliah, saya juga mendapatkan pengetahuan bahwa hampir semua hal dan teori yang dipelajari di kampus nyaris tidak ada sangkut-paut sama sekali dengan dunia nyata.

Bayangkan saja, setiap kali soal tugas saya cari jawabannya di Google, maka yang keluar di hasil pencarian hampir semuanya adalah tugas-tugas dari mahasiswa, baik dari kampus yang sama maupun berbeda. Nyaris tidak ada sumber referensi dari web betulan di dunia nyata. Faktanya, ada banyak istilah dan teori bisnis dalam kuliah yang sama sekali tidak pernah saya ketahui, apalagi gunakan dalam bisnis saya.

Well. Tapi sudahlah. Meski untuk mengubah sistem kita dapat melakukannya dari luar, tetapi saya telah memilih untuk melakukannya dari dalam. Maka saya jalani saja dengan hati yang gembira.

Nah. Di dalam perjalanan kuliah saya, akhirnya saya menemukan sesuatu yang tak saya sangka-sangka. Sebagaimana insting bisnis saya, hal tersebut kemudian menggerakan saya untuk menciptakan bisnis baru yang akan saya ceritakan sebentar lagi.

Jika teman-teman sudah tahu, hampir 4 tahun lalu saya pernah membuat sebuah tool bernama Spinner.id yang berguna untuk membuat artikel unik memanfaatkan sinonim. Pada awalnya, target pengguna Spinner.id adalah para pembuat konten dan penulis artikel.

Namun sepanjang perjalanan saya mendapati bahwa mayoritas pengguna Spinner.id adalah dosen dan mahasiswa. Ini terlihat dari email yang mereka gunakan saat mendaftar. Ya apalagi kebutuhannya kalau bukan untuk bikin tugas, paper, tesis dan skripsi. Menemukan fakta ini, saya sempat tertawa dan membayangkan betapa mirisnya dunia akademis kita dimana kegiatan menulis dilakukan dengan alat bantu.

Sebagai seorang penulis, saya pun bergidik. Entah senang atau kecewa melihat fakta ini. Senang karena pengguna Spinner.id menjadi ramai. Kecewa karena kemampuan literasi kita yang mengharukan.

Tapi ternyata saya salah.

Barulah ketika saya kuliah lagi, saya mengetahui jika tool seperti Spinner.id ternyata memang disarankan oleh dosen untuk dipakai oleh para mahasiswa. Istilah yang digunakan di kampus adalah alat parafrase. Oh. Pantas saja.

Well. Dan darisana, saya kemudian menemukan sebuah peluang sekaligus ide bisnis yang baru.

Sebagai informasi, Spinner.id dirancang bukan untuk kebutuhan mahasiswa. Sama sekali tidak terpikir saat saya membuatnya. Di dalam landingpage dan keseluruhan website, bahkan tidak ada satu pun kata “parafrase” disana. Betul-betul tidak ada. Toh meski begitu, hingga podcast ini dibuat total penggunanya sudah lebih dari 400.000 dimana mayoritas adalah dosen dan mahasiswa.

Tentu saja, dengan begitu, Spinner.id tidak akan muncul dimana pun di hasil pencarian Google untuk kata kunci yang berkaitan dengan “parafrase”. Beda halnya dengan kata kunci “ artikel spinner “ atau yang berkaitan dengan itu yang memang saya optimasi dimana Spinner.id menempati posisi pertama di hasil pencarian Google.

Ya dimana lagi. Gak mungkinlah nomer dua. Malu-maluin donk.

Maka saya berpikir. Bagaimana jika saya membuat tool baru yang memang dirancang untuk kebutuhan mahasiswa dengan mengoptimasi kata kunci “parafrase online”? Well ini sih gak akan cuma bisa bayarin duit kuliah saya, tapi juga bisa menjadi sumber income yang baru bagi saya.

Tanpa kata parafrase saja tool saya diserbu oleh mahasiswa. Bayangkan jika kata kunci parafrase saya optimasi. Joss dong ah.

Selain itu, saya juga akan menghadirkan program kemitraan alias affiliasi untuk para dosen dan pengajar, dimana jika mereka merekomendasikan tool tersebut, maka mereka akan mendapatkan komisi hingga 30%.

Dosen gila mana yang tidak mau melakukannya: merekomendasikan tool yang berguna kepada mahasiswanya sambil dapat penghasilan tambahan.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 2 bulan, jadilah tool tersebut sekarang. Namanya Rewriter.id.

Sebuah parafrase online Indonesia gratis yang dirancang khusus untuk kebutuhan akademis, mulai dari membuat tugas, posting forum, bikin paper, jurnal hingga skripsi.

Teman-teman yang ingin menggunakan tool ini atau yang ingin melihat bagaimana hasil rancangan dari ide bisnis yang saya ceritakan di podcast ini dapat langsung mengunjungi Rewriter.id sekarang juga. Atau klik disini.

So …

Dari kuliah lagi, saya ingin share pengalaman bagaimana saya dapat menemukan sebuah ide bisnis yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dan dari ide tersebut, saya berhasil mewujudkannya menjadi sebuah produk yang mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang.

Maka benarlah memang. Ide itu murah. Kita dapat menemukannya dimana-mana. Kita bahkan dapat mencarinya dari yang paling dekat dengan kita.

Yang mahal adalah eksekusi.

Sebab ide tanpa eksekusi memang bagai rice cooker tanpa dicetek.

Doakan saya cepat lulus kuliah.

Originally published at https://riantoastono.com.

--

--

Rianto Astono

an author, book obsessive, writing enthusiast, blogger. Internet marketer since 2004.